logo logo

Pendakian Gunung Gede 2008

Bulan yang lalu tepatnya tanggal 27-29 Desember 2008, saat liburan saya sempatkan untuk jalan-jalan ke gunung gede, dalam ikatan acara yang disebut “nanjak”, memang dari jaman saya SMP, salah satu hobi saya adalah “adventure”, khusunya menjelajahi alam terbuka, dulu sempat mengikuti kesatuan bhayangkara sampai mendapatkan krida TKP, padahal saya berharap masuk ke SAR :(.

Waktu menjadi OSIS pada salah satu SLTA, saya sempat camping di Cibodas, namun hanya 1 malam dan itupun hanya di kaki gunung, kurang nikmat pastinya, hobi dengan alam terbuka adalah salah satu kebiasaan saya pribadi untuk menenangkan pikiran dan mengendurkan semua otot-otot yang tegang di seluruh kepala dan badan.

Baru kali ini sempat nulis kegiatan kemarin, padahal tangan sudah gatal untuk nulis, pada kesempatan kali ini akhirnya sempat juga saya tulis di web ini. Akan saya jelaskan kegiatan selama di gunung gede kemarin pada tulisan saya dibawah ini.

Persiapan, jangan anggap remeh tentang persiapan untuk nanjak, karena hal ini sangat penting, nanjak bukan cuma modal “nekat”, namun harus dipersiapkan sedini mungkin dari kondisi fisik, mental sampai kesiapan perbekalan untuk nanjak, persiapan peralatan meliputi :
[list]
[*]Tas nanjak “Caril”, saya pakai Eiger 70+5 lt
[*]Sepatu nanjak, perbedaaan ada di tapak spatunya, spatu khsus nanjak harus ber gigi, seperti sepatu bola.
[*]Jaket, bahan luar parasit tebal, dan bagian dalam bahan wol(doble), supaya tidak basah dan dingin.
[*]Kupluk, gunakan yang seperti penerjun payung, rapat sampai telinga.
[*]Celana nanjak, usahakan jangan menggunakan celana berbahan jeans, akan merepotkan, gunakan yang bisa di potong-potong.
[*]Sandal, diperlukan pada saat sudah nge-camp di puncak gunung, mempermudah kegiatan dipuncak( sholat, masak dll ).
[*]Kaos tangan, jika ada yang tebal dan 2 lapisan, woll dan parasit.
[*]Sleeping bag, saya menggunakan yang standar, harusnya menggunakan yang minus.
[*]Matras, digunakan untuk alas kita tidur, karena sleeping bag saja tidak cukup untuk menahan dingin.
[*]Jas hujan, dipergunakan pada saat hujan turun diperjalanan.
[*]Senter dan baterai+lampu cadangan, digunakan diperjalanan jika menjumpai malam.
[*]Nesting(panci), dipergunakan untuk perlengkapan memasak (menggoreng, merebus), yang saya perguanakan yang susun 3 milik TNI.
[*]Kompor lipat, saya gunakan kompor kupu-kupu dengan BBG ( bahan bakar gas ).
[*]Perlengkapan makan ( 1 piring, 1 gelas, 1 sendok ).
[*]Camera digital, sayang jika moment yang indah kita lewatkan begitu saja :).
[*]Kompas, penentu arah dan penunjuk kiblat.
[*]Binocular/teropong, melihat keindahan lebih dekat lagi :).
[*]Pisau lipat, pilih yang isinya banyak, supaya lebih praktis, atau standar TNI.
[*]Tempat air, digunakan pada saat diperjalanan, saya pakai standar TNI.
[*]Peta gunung yang akan didaki.
[*]Tenda, yang saya pakai tenda 2 X 2, muat 4 orang.
[/list]

Perlengkapan logistik( sedikit banyaknya tergantung lama pendakian ) :
[list]
[*]Makanan besar ( beras, indomie, superbubur, sarden(jangan yg ABC:amis bgt, pilih Botan)).
[*]Minuman ( susu bendera sachet, 1 aqua besar, 1-4 minuman suplemen ).
[*]Makanan ringan (keripik dll, roti, secukupnya).
[*]Serbuk suplemen ( STMJ, extrajos misal dll ).
[*]Makanan suplemen ( keju, gula merah, gula pasir, cokelat ).
[*]Permen jahe atau yang lainnya.
[*]Obat-obatan pribadi, walau biasanya tim sudah menyiapkan P3K namun tetap diperlukan, misal obat magh dll.
[/list]

Kebetulan kemarin saya mempersiapkan P3K, yang disiapkan :
[list]
[*]Tas pinggang yang lumayan lebar.
[*]Obat merah/betadine.
[*]Alcohol, sebagai pembersih luka.
[*]Repanol, mencegah infeksi pada kulit, warnanya kuning.
[*]Hansaplas secukupnya.
[*]Kapas luka, beda dengan kapas kecantikan ya 😀
[*]Perban secukupnya.
[*]Plaster secukupnya.
[*]Promagh/Milanta, obat magh.
[*]Bodrek, obat sakit kepala, beli yang extra.
[*]Diapet, obat mencret-mencret.
[*]Obat tidur
[*]Oskadon, obat batuk.
[*]Kalau ada obat penenang, antisipasi bagi yang kesurupan dll 😀
[*]Balsem/Minyak Kampak/Minyak kayu putih.
[/list]

Untuk kesiapan fisik sebelum nanjak diantaranya :
[list]

[*]1 Bulan sebelum nanjak, lari-lari 15 menit, min 1 minggu 2 kali.
[*]Cukup istirahat dan makan teratur.
[/list]

Karena saya sendiri sudah hampir 3 tahun jarang lari dan berolah raga, olehkarenanya pas nanjak kemarin jalan paling terakhir, selain cape juga sebagai petugas penyapu tim, misal ada yg sakit, cape dll, saya yang nemenin, perjalanan kemarin melewati Gunung Putri, perjalanan dimulai dari kaki gunung jam 1.30 pagi hari Sabtu. Pendakian dilakukan oleh 14 orang, man only :D.

Perjalanan pagi yang masih gelap gulita, hanya bermodalkan lampu badai tenaga baterai, ternyata bukan hanya tim kami yang nanjak pada saat itu, pada saat diperjalanan ada 4/5 tim lain yang sama-sama menuju Alun-alun suryakencana, padang edelwies, peralanan tersebut memakan waktu dari kaki gunung putri sampai alun-alun kurang lebih 6 jam, dengan istirahat berkali-kali di perjalanan, jalur yang kami lewati sama seperti halang rintang kalau anda suka bermain games aoutdoor bedanya ini bener-bener real, akar phon, bebatuan dan tanjakan yang tiada habisnya, pernah ke candi borobudur ? hampir sama tanjakannya, bedanya candi borobudur sudah rapih namun di gunung putri boro-boro rapih… kurang lebih 7 x tanjakan di candi borobudur qe3… dengkule ucul cux.

Akhirnya bertemu pagi di perjalanan gunung putri, rimba atau hutan tropis yang begitu indah terasa disana, walau sudah di jamah ratusan manusia, namun keasrian alam gunung putri masih terjaga, karena taman nasional kali ye…, suara burung dan hembusan angin yang selalu mengiringi langkah kami pada saat perjalanan di gn putri, akhirnya kurang lebih jam 7.30 kami sampai di alun-alun surya kencana… indahe poll cux susah diungkapkan dengan kata-kata, bahkan Jakarta saja terlihat dari puncak alun-alun, sayang momen tersebut lupa saya jepret, pas ingat kabut sudah tebal hilang sudah, yang lebih indah adalah awan-awan diasan sangat terlihat pergerakannya, Allahu akbar…

Kami ngecamp di alun-alun tepatnya tidak jauh dari sumber mata air disana, sedikit masuk ke hutan, karena kalo di padang edelwies nya, hoalah… bisa kena badai terbang semua nanti qe3… 4 tenda pun kami dirikan, ternyata ada kurang lebih 10an tenda yang sudah stanbye di sekitar tenda kami. Pada saat perjalanan di alun-alun kami bertemu dengan penanjak lain yang akan pulang, kami diberikan sisa beras mereka kurang lebih 3 kiloan, kami terima karena siapa tau bermanfaat nanti qe3, jujur prilaku penanjak memang bersahabat, beda dengan orang dikota sini, elu-elu gue-gue, saling berbagi, begitu indah.

Jam 4.30 hujan sudah turun, walau masih gerimis, kabut pun sudah turun, jarak pandang kami kurang lebih 20 meteran, kalo kami berbicara keluar asapnya qe3, itu pun di hutan bukan di alun-alun, keadaan malam disana, gelap gulita, jam 19.10 an saya bersama kodok( salah satu tim ), pergi ke sumber mata air, wudhu sekalian melihat kondis, alun-alun malam hari, dasyat man… pokoknya, jarak pandang hanya 1 meter, sisanya kabut, suara kabutnya pun kenceng.. wush..wush.. gitu.. airnya dingin dan mungkin dibawah 12 derajat dinginnya, hanya bermodal head lamp, dan senter, waktu tidurpun datang, pukul 21.00 kami pun beristirahat di tenda masing-masing, jujur… baru kali ini saya tidur kedinginan dengan presentase “sangat”, bayangkan… saya sudah kenakan jaket, kaos dalam, kaos panjang, kupluk rapat, sleeping bag, matras, kaos tangan, semua itu tidak berpengaruh sama “dingin”, tembus semua… ajeh gile… untung sebelum tidur saya sudah nenggak AM, walau sedikit untuk jaga-jaga supaya badan tetap hangat, suara badai jam 2 pagi itu wush-wush, dasyat man pokoknya…

Pagipun datang, tidur yang tidak pulas semalam harus diganti jam 6 sampai jam 9 pagi, dan ternyata semua bangun jam 9 nan, hebatnya jam 5 pagi disana ada yg jualan nasi uduk.. qe3 Rp. 6000 per bungkus, sayang adanya cuma pagi aja siang sore malam nda ada apa-apan. Kalo buka warung mie pangsit DIJAMIN LAKU, qe3, sayang ga ada yg kepikiran kesana, bawa diri aja susah apalagi bawa gerobak dll kekeke bisa mabok.

Tutup tenda dan perjalananpun kita lanjutkan menuju puncak gede, dan perjalanan ke puncak gede kurnang lebih 1 jaman dari alun-alun, sekali lagi jalannya nanjak, nda ada turunan, setibanya disana… perasaan “puas”, serasa semua letih, lemah, lesu terbayarkan sudah, sayang setibanya disana kabut sedang tebal sehingga kawah gede tidak bisa kita lihat dari atas. Seperti biasanya foto-foto dan kurang lebih 15 menitan kita dipuncak gede, perjalanan masih panjang, akhirnya kita lanjutkan lagi menuju “kandang badak”, beda perjalanan kearah kandang badak asik, turun man… jadi lebih enteng ketimbang naiknya, kita melewati daerah yang namanya “turunan setan” itu turunan 90 derajat, jadi kita pakai tali sangat curam.

Disinilah kami terpisah menjadi 2 tim, tim depan dan belakang, dan saya ada di belakang, karena tim depan jalannya cepat, kalau saya, santai… poto-poto dulu sambil ngemil jadi jalan belakangan, kita terpisah di turunan setan dan kami bertemu lagi di pos telaga biru, jauh ya… dan perjalanan pun bertemu dengan malam, melewati kandang batu dan air terjun panas, sayang saya nda sempat mandi, keburu waktu soalnya.

Objek yang belum kita nikmati yaitu air terjun cibereum dan air panas, belum mandi disana soalnya jadi belum dikatakan “dinikmati” qe3. Oh iya anggaran kesana kalau naik angkot kurang lebih Rp. 50.000 sudah cukup, dari terminal kampung rambutan yah…, perbekalan ditas saja yang banyak harus dibeli.

Kalau saya cerita lagi masih panjang… jadi lain kali aja ya di lanjutkan qe3. Rencananya bulan juni/juli 2009 kita akan ke gn pangrango, doakan saja kesampaian. caiyoo… salam nanjak… indah dan mengagumkan… Allah maha besar dengan segala keagungannya.

Salam manis,
Alan

bottom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

bottom