logo logo

Mengikis budaya timur Indonesia

ini-bu-menteri-kita Jangan salahkan jika nanti pelajar-pelajar ber-tato, dan kalo mereka kita tegur dijawabnya “lah mentrinya saja bertato”, bukan sebuah ejekan, itu nyata! pintar memang, pola budaya barat masuk ke Indonesia, secara kasat mata menggeser budaya timur, untuk merusak habitat sekumpulan pohon misal, cara yang paling mudah adalah merusak tunas-tunas pohon, satu demi satu dirusak, dalam kurun waktu tertentu maka, sekumpulan pohon itupun akan hilang, begitupun dengan budaya Indonesia.

Untuk menghancurkan budaya Indonesia, teknik yang paling mudah adalah sedikit-demi sedikit merubah tunas-tunas generasi muda, apa yang dirubah? budaya dan karakteristik Indonesia, hal yang paling terlihat pada sinetron dan tayangan televisi yang sama sekali tidak mendidik, melumrahkan hal yang tidak lumrah, mewajarkan hal yang tidak wajar, contoh tato tadi, jaman alm Suharto, orang bertato akan berfikir berkali-kali, kenapa? Bisa diculik, hilang dan berujung tiada yang tau dimana rimbanya, gerakan tsb sering dikenal sebagai “Petrus”, dampak positive dari petrus tersebut adalah berkurangnya pengguna tato.

susi-airshowTato identik dengan preman, walau banyak selebriti atau artis yang harusnya berkonotasi baik, menggunakan tato, bagi orang Indonesia yang berbudaya timur, membuat tato ditubuh bukanlah hal yang lumrah, namun sekali lagi, budaya barat melumrahkan hal itu, bahkan seleksi CPNS, salah satu syaratnya adalah tidak bertato, namun ada apa gerangan dengan mentri kita yang bertato?

Pada satu sisi kementrian pendidikan sedang gencar-gencarnya menerapkan pola pendidikan berkarakter, satu sisi dinodai dengan dipilihnya seorang mentri yang sama sekali tidak mencerminkan memiliki karakter yang baik, merokok didepan kamera, dan bertato, maka untuk orang tua jangan kaget nanti kedepan anak-anaknya merokok pada usia dini dan bertato, karena yang tidak lumrah tersebut menjadi hal yang lumrah, pada saat ini sudah menjadi hal yang wajar, bahkan saya sering melihat anak SD atau SMP yang sambil nongkrong sambil menghisap rokok, sayang sekali mereka masih terlalu dini untuk mengenal hal tersebut.

Banyak orang yang berkomentar, jangan dilihat dari rokok dan tatonya, “yang penting bisa kerja, yang penting kerja, kerja, kerja”. Saya jadi ingat kutipan dari Buya Hamka “Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”, makna kutipan tersebut sangat luas, dan salah satunya akan menggambarkan bahwa bukan cuma manusia yang bekerja, hewanpun bekerja, terus apa yang membedakan? hati, pikiran/otak, sikap dan faktor religi yang lebih pada manusia dan itu tidak ada pada hewan.

Memang kita akui era globalisasi sudah masuk ke Indonesia dan mulai menggeser budaya asli Indonesia, namun apakah akan menjadi lumrah jika bukan cuma budaya saja yang digeser tapi nilai-nilai luhur dan karakter orang timur pun mulai digeser, mengikis sedikit demi sedikit yang berujung pada hilangnya falsafah bangsa Indonesia, hilangnya nilai keluhuran Indonesia, dan berubah menjadi negara bebas yang berbudaya bebas, dan berujung pada negara Indonesia yang tak berbudaya.

menteri-susi-pudjiastuti-perokok-bertato-tak-lulus-sma-mTGqalwD6OSaya rasa anda yang Indonesia, anda yang orang tua yang mempunyai putra/i, perlu merasa khawatir dan sedih melihat nilai luhur budaya kita mulai hilang dan dikikis oleh budaya bebas, budaya yang mewajarkan hal yang tidak wajar, memaklumkan hal yang tidak maklum dan berakhir pada negara bebas yang tak berbudaya.

Faktor lain yang benyak digembar-gemborkan, bahwa RI 1 selalu terngiang dengan nilai tri saktinya Bung Karno, yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya, namun nyatanya bertolak belakang khususnya pada point ke 3, apakah sudah menjadi patokan dan menjadi pegangan teguhnya? atau itu hanya kata manis atau bumbu penyedap atau angin segar yang dihembuskan kepada rakyat RI.

Silahkan dikaji kembali kutipan dari Buya Hamka dan nilai tri saktinya Bung Karno, anda boleh saja tutup telinga untuk isu-isu yang melanda RI 1 saat ini, namun jangan sampai anda juga gelap otaknya sampai tidak bisa menganalisa dengan jeli makna dan segala yang terjadi saat ini, bukan karena tidak pro RI 1, tapi saya cinta negara ini dan tidak rela generasi penerus dirusak dan kikis moral dan mentalnya yang berujung pada hilangnya budaya Indonesia dan membiarkan yang tidak lumrah menjadi lumrah.

Salam,
Indonesia Indonesia

bottom

5 Responses to “Mengikis budaya timur Indonesia”

  1. charly says:

    bu susi kan bukan pns, masa jabatannya 5 tahun, lagian RI1 minta tolong ke ibu susi untuk menjaga kedaultan laut indonesia, dimana para jendral di laut tidak banyak berbuat banyak untuk menjaga kedaultan NKRI. hanya bu susi dan jokowi yang membuat para perampok dari negara asing gigit jari.

    kita lihat dari sisi penggajian Susi. dia pun tidak menerima gaji yang dia terima justru dia memberikannya untuk nelayan, lagian gaji susi berkerja untuk perusahaanya lebih banyak kok dari pada jadi menteri.

    disini kita liat susi ingin mengabdi untuk negara. dan dia benar2 GILA, tapi untuk membenahi negara ini di butuhkan orang yang extrim untuk bertindak tegas.

    • alan says:

      Betul bung, saya tidak mempermasalahkan PNS atau bukan, saya menggaris bawahi sosok dan karakter, sebagai menteri setidaknya beliau harusnya bisa memposisikan diri, sikap dan attitude, beliau itu dilihat oleh anak-anak sekolah, bisalah merokok tanpa didepan kamera wartawan, andai karakter spt itu dianggap wajar, suatu saat nanti anak SD yang belum waktunya merokok, dia merokok, dan kalau ditanya, kenapa kamu merokok? dijawabnya “ibu menteri saja merokok”.

      Kalo untuk kerja, mengabdi, gaji, tegas dll saya ngga komentar, cuma sikap dan attitude saja yg saya garis bawahi.

  2. Puja K says:

    Setahu saya kalau aturan sudah sangat ketat. Termasuk media cetak dan elektronik kebanyakan punya undang2 sendiri yang umumnya dibukukan, disosialisasikan, dibagikan ke karyawannya. Tapi ya prakteknya banyak yang tidak sesuai aturan tsb. Timbal balik sih keadaannya…. Contoh, di sebuah acara instansi pemerintah diundang para wartawan, itu sudah disiapin amplop buat wartawan2nya. Biasanya 100-400 ribuan. Kalau ada wartawan yang sengaja tidak mengambil jatah, kadang dikejar sama tukang bagi amplopnya, dipaksa nerima. Ini saja sudah turut andil mengikis idealisme media.

    Dalam kasus bu Susi, menurut saya kedua pihak sama2 salah. Saya tahu perokok kalau sudah ingin merokok susah dicegah, tapi Bu Susinya ya jangan merokok waktu diwawancara. Sebagai leader beberapa perusahaan logikanya punya kontrol diri yang kuat. Sedangkan kameramennya juga salah, tahu narasumbernya merokok harusnya kamera segera dimatikan. Taruh lah dia sungkan atau takut maka kamera tetap dinyalakan, orang studionya yang harus bertindak, kasih sensor di rokoknya, teknologi televisi sekarang kan sudah hebat.

    Satu lagi yang saya baru ingat. Yang sangat sangat bahaya, itu korporasi2 raksasa yang ada di banyak negara. Mereka itu sangat mempengaruhi jalannya pemerintahan apalagi pemerintahan yang korup, mempengaruhi warna budaya sebuah negara, bahkan bisa mempengaruhi jatuh bangunnya sebuah negara. Gimana lagi, orang2 mereka juga ada di pemerintahan kok, mengabdinya ya pada korporasi bukan pada negara. Mereka ini, yang saya sebut benar2 setan besar.

    Pokoknya pusing pak ngurusin indonesia hahahaa, dari jaman kuno sampai modern masiiiih saja banyan intriknya. Yang hancur ya rakyat.

  3. Puja K says:

    Nambahin aja pak, semoga berkenan dan manfaat. Tidak hanya budaya barat yang merusak budaya timur indonesia, budaya timur yang bukan indonesia juga berperan, bahkan ada yang berperan lumayan aktif. Misal jepang dengan pornografinya, budaya pop korea, “kekasaran” timur tengah. Jadi kita ini dikepung, ditambah lagi budaya timur indonesia juga banyak yang negatif. Di pulau jawa aja, nenek moyang sudah kenal alkohol (tuak), judi (sabung ayam, jemparingan, dadu), zina (tayub janggrung, selingkuh, istri dan simpanan segudang, homoseksual).

    Sebaliknya ada kabar baik juga. Budaya timur indonesia mulai “menyerang” barat. Terbukti dengan makin banyaknya klub gamelan di sebrang sana, pencak silat juga makin kesohor, kesenian kita digemari. Di dalam negri sendiri juga makin banyak perlawanan. Kalangan blogger yang rajin publish konten yang indonesia banget, seniman yang mengangkat kembali pelajaran budi pekerti, dll.

    Menurut pendapat saya yg sangat subyektif, yg harus diwaspadai juga selain budaya barat, adalah serangan budaya timur non indonesia. Kita lihat sekarang banyak aliran2 Islam masuk ke indonesia, ajarannya bagus2. Tapi… penganutnya itu lho, kok tingkah lakunya gak indonesia, kurang ramah, suka dan cepat menghakimi, mulai meninggalkan bahasa daerah, gampang marah apalagi kalau dihadapkan dengan perbedaan, gampang mengumpat (nama2 hewan, juga “umpatan” kafir mengkafirkan), kurang menghargai sesama, dan ada yang matre. Saya curiga ini pak, jangan2 selain ajaran Islamnya yg bagus itu, mereka juga bawa masuk budaya timur asing itu. Di negri asalnya cocok lah budaya itu diterapkan, tapi di indonesia ya musti adaptasi.

    Saya berpikir, kalau kita berdakwah ke desa2 sunda, tentu warganya lebih senang diajak bicara bahasa sunda dari pada bahasa lain. Yang tua2 tentu senaaang diajak ngomong pake sunda alus. Tentu mereka lebih suka dipanggil mamang, akang, daripada akhi.

    • alan says:

      Puja K: Terima kasih tambahannya, saya setuju dengan tambahannya, memang kita harus mengikuti tren masa kini, tapi tren yang mana dulu yang harus diikuti, harusnya pemerintah membuat pakem yang ketat untuk media publikasi, televisi maupun internet, konten-konten yang dirasa merusak budaya itu dihilangkan, kalo perlu dimusnahkan sesuai dengan tujuan dari tri sakti yg ke 3, khususnya media televisi yang sangat besar pengaruhnya ke masyarakat, prihatin saya melihat generasi saat ini yg jauh dari nilai-nilai luhur pancasila, keluar dari konteks ajaran Islam yah, kalau dikaitkan dengan ajaran islam, sangat luar biasa pengaruhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

bottom