logo logo

IPDN / STPDN atau apalah

Tendangan Seribu Bayangan… Hajar… Gebuk… Tonjok… itu lah yg terlihat di video rekaman amatir seseorang ( <a href=http://voiprakyat.or.id/videoblog/STPDN/player/id/66/f/watch.html>video rekaman kekerasan IPDN klik sini</a> ). Kebejadan sistem pendidikan di dalam IPDN / STPDN yang terlihat bukan lah rekayasa kamera atau apapun, namun nyata, bayangkan apabila anda adalah salah satu orang tua dari mereka, ikhlaskah anak yg di banggakan bisa lulus ujian hingga masuk di IPDN setelah itu di siksa bagai dibui… Bukan siksa guyon atau siksa test namun hingga sampai merenggut nyawa.
Kebiasaan pukul tonjok atau kita sebut peloncoan mahasiswa baru atau murid baru merupakan adat yang di jalani di banyak Universitas, namun kebiasaan yang di jalani di IPDN sangatlah langka, bagai mana tidak langka, tonjok hajar yg merupakan suatu sikap kekerasan di budayakan sebagai hal “biasa”, turun temurun yang akhirnya muncul ke khalayak ramai dan di vonis sebagai tindakan kekerasan di dalam atau lingkungan kampus.

Terlihat exstrim memang, coba perhatikan video saat beberapa mahasiswa di tendang sambil lari, seperti seorang maling di gubukin massa, sampai terpental hingga beberapa meter, terpikirkah dalam benak si pemukul, bahwa “dipukul itu rasanya sakit bung”, apalagi dengan seenak “udel”. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “Penjahat Kampus”, yg harus di tangani secara sigap dan tegas.

Pukul dada, di bagian depan organ manusia ada yang namanya jantung, hati dan paru-paru, lihat adegan yang di pukul di bagian dada, terpikirkah oleh si pemukulĀ  kalau di bagian itu ada organ sensitif, motor penggerak, yang menentukan apakah manusia masih hidup atau mati(aka jantung), secara membabi buta plus napsu, asal saja mereka memukul.

Sekolah Biadab, itulah yang tersirat di pikiran saya, untuk apa di pertahankan, tindakan mereka merupakan cermin untuk pemerintah, betapa bobroknya manajemen di lingkungan kampus IPDN, “sepintar pintarnya orang menyimpan kebusukan, suatu saat pasti akan tercium baunya”, mungkin pernyataan itu lebih tepat untuk kebusukan yang ada di IPDN, tidak punya hati nurani, rasa kemanusiaan dan budi luhur yang baik, yang ada hanya napsu binatang, sekolah untuk menjadi pintar, cerdas, dan menjadi seseorang yang berbudi pekerti luhur, bukan untuk diajarkan kekerasan, apalagi saling “BANTAI”.

Untuk kita renungkan, kita hidup didunia ini untuk berbuat baik, beramal, berkarya bukan untuk menjadi jagoan, preman, penguasa yang arogan, apalagi menjadi tukang gebuk, ingat sakit yang mereka derita hingga mungkin saat ini Allah pasti akan membalasnya dengan bentuk apapun, sadarlah dan ngampura bukan tindakan terpuji yang terlihat divideo tersebut merupakan perbuatan yang tercela, siapapun termasuk orang tua mahasiswa yang teraniaya akan merasakan sakit hati dan mungkin meneteskan air mata melihat anaknya di aniaya, sungguh ini kebejadan…

Dan ini ada teman send via YM status para pelaku sekarang, entah kebenaran entah kebohongan: “Hai teman2…. udah tau kan peristiwa kekerasan yang terjadi di STPDN/IPDN… Nah, ternyata para pemukul Wahyu Hidayat ( 3 September 2003) itu tidak dipenjara… bahkan sampai saat ini mereka bekerja sbg PNS di lingkungan pemerintahan… bahkan ada yang menjadi Aisten Gubernur loh…. dan ada juga yang mengisi tangsi2 penting di lingkungan pemerintahan. Anda ga percaya…??? salah 1 (satu) orangnya bernama “Dicky”.. dia itu terbukti terlibat pemukulan… di vonis penjara… tapi tidak dipenjara… melainkan bekerja sbg PNS di wilayah Purwakarta… mari tegakkan hukum utk mereka…. jgn mentang2 praja….. (kirim pesan ini utk teman2 lain ya…)……”

Hati tergetar melihat adegan tersebut hingga saya ingin mengabadikan kebejadan itu di web saya, semoga hal tersebut tidak dan tidak akan pernah terulang kembali, amin….
<center><br>
<a href=”http://antobilang.wordpress.com/2007/04/09/demi-nyawa-anak-bangsa/”><img src=”http://antobilang.files.wordpress.com/2007/04/stpdn2.jpg”></a></center>

bottom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

bottom