logo logo

DSLR tidak cocok dibawa ke acara pernikahan

Semingguan yang lalu saya mendapatkan undangan pernikahan dari seorang sahabat, sahabat wanita, saya datang jam 19.30 an, dengan 2 sahabat saya dan tidak lupa membawa kamera DSLR yang masih saya pelajari, niatnya untuk belajar motret suasana pernikahan, dan mencoba modus malam dengan gemerlap lampu.

Sesampainya disana sayapun langsung isi daftar tamu beserta 2 teman saya, dan langsung ke pelaminan untuk mengucapkan kalimat doa yang sering orang-orang panjatkan kepada pasangan mempelai “selamat yah… semoga menjadi keluarga samara…”, usai itupun kami pun langsung menikmati hidangan yang disiapkan.

Mengucapkan doa sudah, menikmati hidangan sudah, clingak-clinguk ini gendolan dikiri belum digunakan :) saatnya memainkan DSLR, mulailah saya foto-foto temen-temen dibawah tenda biru malam itu, dan ngobrol ngalor ngidul, nyolong-nyolong foto tamu undangan.

Akhirnya tiba saatnya saya pamitan ke mempelai pengantin, sambil minta kenang-kenangan foto malam itu, walaupun malu karena ada fotografernya didepan panggung pengantin, tapi rasa ingin belajar mengalahkan rasa malu saya saat itu, oh ternyata fotografernya menggunakan Nikon, cuma versinya saya tidak sempat lihat dengan detil, sayapun bergabung dengan fotografernya, foto-foto pengantinnya saat itu.

Karena terlalu semangat mungkin jadi saya terlalu asik dengan jepret sana sini, karena fotografernya cuma satu orang pada saat itu, diapun duduk, tidak sadar ternyata saya berdiri sendirian didepan panggung pengantin, alhasil ada ibu-ibu minta di foto dan memanggil saya “mas.. mas.. fotoin saya donk”, waduh saya bengong… karena yang saya foto sebelumnya adalah temen-temen saya yang hadir pada saat itu, dalam hati saya “loh ini siapa.. kok minta difotoin”, eh pengantin wanitanya pun tertawa… kata nya kepada ibu-ibu yang minta di foto “dia mah undangan bukan tukang fotonya, itu yg lg duduk tukang fotonya” sambil nunjuk ke arah mas-mas fotografernya.

Si ibu itu pun tertawa dan berkata “mas maaf ya saya kira mas tukang fotonya…” mukanya merah dan malu-malu, “iya bu ngga apa-apa” saya jawab, seketika itu juga saya langsung sadar waduh kelamaan berdiri didepan panggung nih, saya pun langsung keluar dari arena resepsi dan pulang, sambil ketawa-ketiwi haha…

Pesan saya, kalo mau belajar motret nikahan mending gabung atau ikut sama teman yang biasa motret, kalo jadi tamu dan bawa DSLR yang ada bisa dianggap tukang foto sama nasibnya seperti saya nanti, dan buruknya saat itu saya ditinggal pulang sama 2 teman saya yang hadir saat itu, ditelp “woi dimana?” saya telp temen saya, “dijalan pulang, loe kelamaan moto-moto” jawab teman saya… hahaasyem… *kasus*.

bottom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

bottom